Artikel ini ditulis karena baru saja ada kasus yang terjadi dimana pemilik rumah terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menyenangkan dengan proses jual beli rumah nya di Jakarta Barat. Begini kisahnya secara singkat.

Si pemilik rumah menunjuk beberapa agen properti untuk menjual. Beberapa dia kenal dengan baik, namun banyak dia tidak begitu kenal. Pemilik mendapatkan nomor telpon agen dari website online tempat menjual rumah. Hanya bermodalkan telpon dan WhatsApp pemilik ini pun menunjuk beberapa agen tambahan karena merasa makin banyak agen maka harapan dia agar rumah dapat terjual dengan lebih cepat.

Awalnya Semua Berjalan Baik

Semua berjalan sesuai harapan dia. Mulai dari adanya buyer yang baru yang diperkenalkan dan survei pun mulai bertambah jadwalnya. Hal ini disambut positif karena membawa angin segar kepada pemilik rumah dan dia menjadi bersemangat.

Proses berikutnya setelah survei dilakukan tentu ada buyer yang kepincut dengan rumahnya dan memulai adanya penawaran harga. Singkat cerita ada seorang buyer yang menawar dengan harga yang sesuai harapan si pemilik. Sampailah mereka semua di sebuah kafe untuk melakukan tanda tangan jual beli di atas perjanjian yang telah di buat oleh agen properti.

Ramah tamah dan senyum tawa pun bertebaran di hari yang berbahagia ini karena pemilik merasa bahwa hari nya sudah hampir tiba untuk meraup keuntungan atas penjualan rumahnya.

Namun tanpa dia sadari bahwa ternyata ada kelalaian yang fatal yang dia lakukan dalam pertemuan untuk menandatangani perjanjian jual beli di atas materai tersebut yang bisa mencederai hubungan dan proses transaksi.

Kabar Miring Mulai Masuk

Dalam proses negosiasi antara pemilik dengan calon pembeli ternyata mereka bersepakat bahwa proses pembelian ini akan dilakukan dengan KPR dari bank. Dalam percakapan di kafe beberapa Minggu yang lalu si pemilik sempat tanya kepada agen, berapa lama biasanya urusan KPR bank? Agen pun mengatakan tidak lama palingan beberapa Minggu saja.

Namun ternyata di kontrak perjanjian jual beli tersebut tidak tertulis batas waktu kapan si pembeli harus melakukan pelunasan. Ini adalah satu kesalahan fatal yang dilakukan oleh pemilik karena dia tidak memeriksa kontrak dengan teliti dan percaya saja kepada agen. dia mengira asal tertulis harga, komisi, dan alamat serta data pribadi cukup lah sudah. Ternyata kesalahan fatal terjadi dari pasal batas waktu pelunasan pembeli yg harus nya tercantum disana namun tidak ada.

Sebuah kabar diterima dari agen karena pembeli mengatakan bahwa KPR nya ada sedikit kendala dengan bank yang dimana dia mengajukan kredit. Oleh karena itu pembeli ingin pemilik agar menunggu agar mereka bisa mengajukan kepada bank lainnya. Sambil sedikit bercanda masih ada 4 bank lainnya yang dia mau coba. Dan menambahkan toh kalau semua tidak bisa memberikan kredit dengan baik dia berkelakar toh dia mau bayar lunas tanpa KPR.

Dititik ini tentu kita tidak tahu apakah betul si calon pembeli ini bisa bayar cash atau tidak di akhir. Atau jangan jangan dia hanya asal ngomong saja agar pemilik tidak curiga. Namun satu hal yang pasti di titik ini pemilik menjadi bertanya tanya. Ada apakah gerangan?

Kehilangan Buyer Yang Baik

Yang memperkeruh suasana adalah, ada buyer lain yang sebenarnya tertarik juga terhadap rumah tersebut dan dari awal sudah bilang mau bayar langsung lunas. Namun buyer tersebut juga suka dengan rumah yang lain. Si pemilik menjadi agak panik, dia mau agar perjanjian di batalkan agar dia bisa menjual kepada Buyer yang lain. Namun di perjanjian urusan denda tertulis dengan jelas apabila di batalkan sepihak.

Hal ini membuat pemilik menjadi terkatung-katung tidak jelas. Entah sampai kapan perjanjian ini akan berakhir. Pemilik menjadi terjebak dalam perjanjian yang telah dia masuki tanpa tidak mampu bagaimana dapat menyelamatkan dirinya dengan baik.

Ketika artikel ini ditulis kasus ini masuk berlanjut karena baru kemarin malam saja saya berbicara dengan pemilik rumah tersebut selama 30 menit di telpon. Semoga kita semua bisa ambil hikmah dari apa yang terjadi di kasus ini. Terima kasih.